...,TERIMA KASIH ANDA TELAH MAMPIR KE BLOG INI,...

Sabtu, 25 April 2009

Susunan Upacara Pernikahan Adat Budaya Bali



Kalau ada teman-teman kebetulan berwisata ke Bali, dan pada saat itu kebetulan juga teman-teman menemukan sebuah upacara adat di bali, khususnya upacara adat pernikahan ini, itu merupakan suatu keberuntungan mengapa demikian?, itu disebabkan karena upacara ini memang tidak rutin diadakan setiap waktu di Bali, upacara ini hanya berlangsung pada hari-hari tertentu saja, oleh kalangan keluarga tertentu, dan biasanya juga tidak terlalu terbuka untuk umum, hanya kalangan keluarga dan kerabat dekat saja, kecuali kalau kita mendapatkan ijin terlebih dahulu,...
Namun untuk menambah pengetahuan saja, saya akan coba menceritakan sedikit bagai mana susunan upacara tersebut, berdasarkan tatanan adat yang ada dan pokok-pokok dari inti upacara ini, inti upacara ini sebenarnya sama disetiap daerah di bali, namun yang membedakannya adalah tambahan-tambahan (fariasi) yang disesuaikan di masing-masing daerah tersebut.

Dari sebuah buku yang saya dapat, yaitu yang berjudul " Upacara Manusia Yadnya" yang ditulis oleh "Rsi Bintang Dhanu Manik Mas, I.N. Djoni Gingsir, disana dijelaskan dengan sangat sederhana, dan kunci-kunci pokok dasar tatanan upacaranya pun amat ringkas, sehingga menjadi sangat mudah untuk dipahami, dan rasanya juga mudah untuk dilaksanakan, kalau kita mengingat falsafah "Desa Kala Patra" yang artinya disesuaikan dengan keadaan dimana upacara ini dilakukan, mungkin ini jawabannya.


Nah berikut saya sampaikan susunan dari acara pernikahan tersebut :

  1. Pertama mebiyakala, makna dari upacara ini adalah pensucian diri dari pengaruh-pengaruh buruk, perasaan dan pikiran-pikiran kotor, dengan menjalankan upacara ini diharapkan pikiran dan perasaan kedua mempelai menjadi jernih kembali, bersih suci nirmala. Dalam tata cara pelaksanaan upacara ini dilengkapi dengan bebantenan ( sesaji), sebagai bentuk etika dalam ajaran Hindu, nah isi dari bebantenan (sesaji) sebagai berikut: Pras, Daksine, Ajuman, Suci dengan Telur Itik, Tipat Satu Kelan, Sesayut, pengambyan, dan lain-lain, yang keseluruhannya dijelaskan dalam buku tersebut diatas,..dengan adanya bebantenan ini membuat upacara ini menjadi lebih sakral dan amat suci. Kitapun akan terbawa larut didalamnya.
  2. Kemudian dilanjutkan dengan upacara Mesakapan atau disebut juga mekalan-kalan, upacara ini mempunyai makna yang amat dalam, sesuai dengan namanya "mekalan-kalan" yang memiliki kata dasar "kala" ini diartikan sebagai sebuah kekuatan buruk, yang penuh dengan energi negatif yang disimbulkan dalam ujud raksasa, diadakannya upacara ini tujuannya adalah menetralisir sifat-sifat kala yang ada dalam tubuh kedua mempelai, sehingga sedapat mungkin bisa berubah menjadi sifat dewa, yaitu bijak sana dan dipenuhi dengan kebajikan. Upacara ini dilaksanakan di tengah pekarangan rumah dalam istilah Balinya disebut dengan "natah". Kelengkapan upacara ini selain bebantenan seperti upacara diatas yang dijelaskan dalam buku yang saya maksud, ada juga lainnya yang membuat upacara ini semakin sarat dengan makna kehidupan, diantaranya adalah:
  • Tikar Tandakan, sebuah tikar berukuran kecil terbuat dari janur, disimbulkan sebagai kesucian seorang gadis yang akan menjalankan pesakapan (pernikahan).
  • Kala Sepetan, suwun-suwunan yang isinya antar alain, sebuah bakul berisi batu hitam seperti cobek, telur ayam, bebungkilan atau umbi-umbian seperti ubi, talas, bumbu dapur dan lain-lain, daun andong, kapas, uang 25, beras, yang kesemuannya ini dimaksudkan sebagai bekal untuk menghadapi hidup baru, disamping itu juga bakul tersebut di tutup dengan sabut kelapa yang dipecah menjadi tiga sebagai simbul "Tri Guna" (Satyam, Rajas, Tamas) yang merupakan sifat dasar dari manusia, kemudian sabut itu masing-masing di ikat dengan benang tiga warna (Tri Datu) merah, hitam, putih sebagai simbul Trimurti, Brahma, Wisnu, Siwa yang membatasi sifat triguna itu agar tercipta keseimbangan.
  • Tegen-tegenan, acara upacara ini penuh dengan makna filosofi Hindu, seperti misalnya tegen-tegenan dengan mengunakan batang tebu sebagai tongkat pemikul, diartikan sebagai tahapan dalam jenjang kehidupan ruas-ruas tebu menandakan tingkatan yang diharapkan terus semakin maju, dan rasa manis merupakan harapan agar hidup yang akan diarungi kedua mempelai ini semanis rasa tebu itu sendiri. Di tetegenan itu juga ada besek dan periuk, pacul, semuanya itu adalah perlambang peralatan yang nantinya digunakan oleh mempelai laki setelah bersetatus suami, untuk membangun rumah tangga sebagai modal dasar pencari nafkah.
  • Dagang-dagangan, upacara ini bermakna sebagai suatu tanda bahwa kedua mempelai harus saling bantu membantu, dalam membina rumah tangga kelak, sama-sama mengarungi bahtera hidup dalam susah maupun senang, sama-sama memiliki tanggung jawab dalam menjaga keutuhan rumah tangga, dengan berdagang untuk mempersiapkan diri menopang ekonomi dalam keluarga.
  • Penegtegan, yaitu upacara yang disimbulkan dengan berdirinya sebuah tiang, yang berisi sebilah keris, yang diartikan sebagai berikut, tiang merupakan pilar rumah tangga, yang menopang berdirinya sebuah rumah tangga, dengan sebilah keris yang melambangkan sebagai simbul purusha yaitu (garis utama asal usul keturunan dari pihak laki-laki).
  • Pemegat, terdiri dari dua batang cabang kayu dadap ditancapkan seperti pintu gerbang yang masing-masing dihubungkan dengan benang putih diletakan di natah (halaman) depan rumah, pintu gerbang dan benang putih perlambang kesiapan kedua mempelai keluar dari pintu gerbang menyongsong hidup baru dengan hati dan perasaan yang bersih dan suci seperti lambang dari benang putih tersebut di atas.
  • Tetimpugan, terdiri dara tiga ruas bambu yang pada pelaksanaanya nanti dibakar, agar menimbulkan bunyi letusan, maksud dari bunyi letusan itu sebagai tanda untuk mengusir pengaruh-pengaruh buruk yang diakibatkan dari energi-energi negatif, ketiga ruas bambu itu diartikan sebagai simbul Butha, Kala, Dengen yang merupakan unsur-unsur negatif tersebut.
Nah demikian susunan dari pelaksanaan upacara pernikahaan (mesakapan, pewiwahan, mekalan-kalan) dalam tatanan budaya adat istiadat di Bali, untuk lebih lengkapnya seandainya teman-teman ingin mengetahui lebih dalam mengenai bebantenan (sesaji) dan doa-doa yang digunakan dalam upacara ini sekaligus sebagai penambah pengetahuan, silahkan deh hubungi langsung penulisnya yaitu "Rsi Bintang Dhanu Manik Mas, I.N. Djoni Gingsir.

2 komentar:

  1. ijin share ya kk http://weddingdibali.com/

    BalasHapus
  2. Kalau mau beli bukunya dimana ya pak?
    Mohon informasi nya nggih.
    Suksme

    BalasHapus